Ringkasan
Tiga model utama peer-review—single blind, double blind, dan open review—masing-masing membentuk keadilan, transparansi, dan akuntabilitas dalam penerbitan akademik.
Single blind melindungi reviewer tetapi dapat memicu bias atau pelanggaran. Double blind mengurangi bias berbasis penulis tetapi jarang menyembunyikan identitas sepenuhnya. Open review meningkatkan akuntabilitas tetapi mungkin melembutkan kritik atau mendorong politik.
Penulis: sesuaikan pengajuan Anda dengan setiap sistem, anonimisasi dengan hati-hati, dan tanggapi umpan balik secara profesional. Reviewer: tetap objektif, nyatakan konflik, dan kritiklah karya, bukan orangnya. Editor: sesuaikan model dengan norma disiplin dan pastikan transparansi.
Intinya: tidak ada sistem yang sempurna. Proses review terbaik adalah yang semua pihak bertindak dengan integritas, empati, dan ketelitian—apapun formatnya.
📖 Full Length (Klik untuk tutup)
Tiga Jenis Peer Review: Kelebihan, Kekurangan, dan Cara Menavigasinya
Peer review tetap menjadi dasar penerbitan akademik—proses yang membantu jurnal menjaga kualitas, memastikan klaim didukung oleh bukti, dan memberikan kritik konstruktif kepada penulis sebelum publikasi. Namun, tidak semua peer review berjalan dengan prinsip yang sama. Sebagian besar jurnal menggunakan salah satu dari tiga sistem: single blind, double blind, atau open review. Memahami cara kerja masing-masing dan cara mempersiapkannya sangat penting bagi penulis dan reviewer.
1) Mengapa peer review penting
Peer review memiliki tiga tujuan yang saling tumpang tindih: kontrol kualitas, pembangunan kredibilitas, dan kepercayaan komunitas. Ini menyaring riset yang lemah, meningkatkan kejelasan dan reproduktibilitas karya yang baik, serta meyakinkan pembaca bahwa temuan yang dipublikasikan telah memenuhi standar khusus bidangnya. Namun sistem ini hanya berfungsi ketika reviewer, editor, dan penulis semua memahami peran dan batasan mereka.
2) Single Blind Review: Standar Tradisional
Dalam sistem single blind, identitas reviewer disembunyikan sementara nama dan afiliasi penulis tetap terlihat. Pendekatan ini masih dominan di sebagian besar disiplin ilmu—dari kedokteran dan biologi hingga humaniora—karena menyeimbangkan efisiensi dengan tingkat perlindungan bagi reviewer.
Keunggulan
- Perlindungan peninjau: anonimitas memungkinkan kritik yang jujur, terutama ketika peninjau pemula menilai sarjana senior.
- Sederhana secara editorial: editor mengelola identitas dengan mudah, mempercepat alur kerja.
- Transparansi kepengarangan: peninjau dapat menilai kredibilitas dan konteks berdasarkan rekam jejak dan institusi penulis.
Kekurangan
- Risiko bias: peninjau mungkin dipengaruhi—positif atau negatif—oleh reputasi, kebangsaan, atau jenis kelamin penulis.
- Kurangnya akuntabilitas: anonimitas dapat menyebabkan komentar yang tidak perlu keras, meremehkan, atau menghalangi.
- Potensi pelanggaran: kasus langka termasuk pencurian ide, penundaan untuk “mendahului” karya pesaing, atau plagiarisme data yang belum dipublikasikan.
Meskipun sebagian besar peninjau bertindak profesional, anonimitas kadang mendorong perilaku tidak konstruktif. Editor mengurangi ini melalui pelatihan peninjau dan pemeriksaan internal, tetapi penulis juga dapat melindungi diri dengan mendokumentasikan komunikasi dan memilih jurnal dengan kebijakan etika yang kuat.
3) Double Blind Review: Pengejaran Ketidakberpihakan
Dalam double blind review, identitas peninjau dan penulis keduanya disembunyikan. Secara teori, ini menyetarakan kondisi sehingga manuskrip dinilai murni berdasarkan kualitasnya. Banyak jurnal humaniora dan ilmu sosial kini lebih memilih pendekatan ini, dan beberapa badan pendanaan menggunakannya untuk penilaian hibah.
Keunggulan
- Pengurangan bias: peninjau tidak dapat (secara teori) memfavoritkan institusi bergengsi atau mendiskriminasi nama atau negara yang tidak dikenal.
- Dukungan untuk sarjana pemula: pengajuan dinilai berdasarkan kualitas, bukan kekuatan riwayat hidup.
- Persepsi keadilan: banyak penulis lebih mempercayai model ini, meningkatkan kepercayaan pada hasilnya.
Kekurangan
- Anonimitas parsial: peninjau seringkali dapat menebak identitas dari gaya penulisan, sitasi, atau bidang penelitian.
- Kompleksitas administratif: memastikan manuskrip sepenuhnya dianonimkan menambah beban kerja editorial.
- Bias yang terus-menerus: peninjau mungkin masih menilai berdasarkan kesesuaian teoretis daripada bukti.
Untuk memperkuat sistem double blind, penulis harus menghapus semua detail pengenal—ucapan terima kasih, sitasi diri, nomor hibah, dan nama institusi—sesuai dengan panduan anonimisasi jurnal secara tepat. Peninjau, di sisi lain, harus mendekati setiap makalah seolah-olah penulisnya adalah rekan yang dihormati dan identitasnya tidak relevan.
4) Ulasan Terbuka: Transparansi dan Akuntabilitas
Tinjauan terbuka adalah model terbaru dan paling banyak diperdebatkan. Di sini, identitas penulis dan peninjau keduanya terlihat. Di beberapa jurnal, tinjauan juga diterbitkan bersama artikel, kadang dengan nama peninjau terlampir. Pendekatan ini bertujuan menghilangkan kerahasiaan dan pelanggaran sambil memberi penghargaan kepada peninjau atas kerja intelektual mereka.
Keunggulan
- Akuntabilitas: peninjau lebih berhati-hati, konstruktif, dan sopan ketika nama mereka dipublikasikan.
- Kredit untuk peninjau: tinjauan yang diberi nama dapat dihitung sebagai keluaran ilmiah dalam beberapa sistem evaluasi.
- Transparansi: pembaca dapat melihat bagaimana sebuah artikel berkembang melalui umpan balik, meningkatkan kepercayaan pada proses publikasi.
Kekurangan
- Pengurangan keterusterangan: peninjau mungkin ragu mengkritik penulis berpengaruh karena takut pembalasan.
- Potensi bias: mengetahui identitas penulis dapat memperkenalkan kembali preferensi berbasis prestise.
- Rekrutmen peninjau: lebih sedikit ahli yang mungkin setuju berpartisipasi jika anonimitas dihapus.
Meskipun ada kekhawatiran, tinjauan terbuka semakin berkembang—terutama dalam ilmu kedokteran dan lingkungan—di mana akuntabilitas dan reproduktifitas sangat penting. Bentuk hibrida juga ada, seperti “tinjauan transparan,” di mana laporan diterbitkan secara anonim tetapi dengan korespondensi editorial penuh.
5) Model Hibrida dan Berkembang
Tinjauan sejawat tidak statis. Beberapa jurnal menggabungkan pendekatan untuk menyeimbangkan keadilan dan keterbukaan:
- Tinjauan transparan: laporan tinjauan bersifat publik, tetapi nama peninjau tetap rahasia.
- Tinjauan kolaboratif: komentar pasca-publikasi melengkapi tinjauan formal.
- Tinjauan komunitas: preprint mengundang komentar online terbuka sebelum pengiriman jurnal.
Eksperimen ini bertujuan untuk meningkatkan reproduktifitas, berbagi beban kerja di seluruh komunitas, dan mengintegrasikan tinjauan sejawat dengan praktik ilmu terbuka.
6) Tinjauan Perbandingan
| Model | Siapa Kenal Siapa? | Keunggulan Utama | Risiko Utama |
|---|---|---|---|
| Single Blind | Reviewer mengetahui penulis | Efisien; melindungi reviewer | Potensi bias atau penyalahgunaan |
| Double Blind | Keduanya tidak saling mengetahui | Mengurangi bias; lebih adil untuk penulis baru | Anonimitas parsial; beban admin |
| Open Review | Kedua identitas terlihat | Transparansi; akuntabilitas | Kritik yang ragu-ragu; lebih sedikit relawan |
7) Panduan untuk Penulis
- Baca kebijakan jurnal dengan cermat. Jangan pernah menganggap model yang sama berlaku di mana-mana.
- Sesuaikan manuskrip Anda: anonimisasi atau beri merek dengan tepat.
- Respon secara profesional: bahkan ulasan yang bias atau keliru layak mendapat balasan yang tenang dan berbasis bukti.
- Ucapkan terima kasih kepada reviewer: apresiasi yang tulus membina niat baik; editor mengingat penulis yang ramah.
- Simpan dokumentasi: jika Anda curiga ada pelanggaran, laporkan secara pribadi kepada editor atau penerbit.
8) Panduan untuk Reviewer
- Ungkapkan konflik kepentingan segera.
- Pisahkan kritik dari nada: fokus pada logika dan bukti, bukan sifat pribadi.
- Tulis secara konstruktif: setiap komentar harus memperbaiki makalah atau memperjelas batasannya.
- Patuhi tenggat waktu: tinjauan tepat waktu melindungi seluruh jalur publikasi.
- Jaga kerahasiaan: jangan pernah membagikan atau mengutip data yang belum dipublikasikan.
9) Panduan untuk Editor dan Institusi
- Cocokkan model dengan bidang: beberapa disiplin menghargai anonimitas, yang lain transparansi.
- Latih peninjau: modul singkat tentang bias, nada, dan etika meningkatkan kualitas di semua sistem.
- Eksperimen dengan hati-hati: uji coba model tinjauan baru sebelum adopsi penuh.
- Berikan penghargaan kepada peninjau: akui layanan dengan sertifikat, DOI, atau pengakuan formal.
10) Mitos Umum Tentang Peer Review
- “Peer review menjamin kebenaran.” Itu meningkatkan akurasi tetapi tidak dapat menghilangkan kesalahan.
- “[open] selalu lebih adil.” Akuntabilitas membantu, tetapi hierarki budaya masih penting.
- “Double blind tidak mungkin di bidang kecil.” Sulit, ya, tetapi anonimisasi dan penyaringan editorial mengurangi kebocoran.
- “Peninjau bekerja untuk jurnal.” Sebenarnya, mereka melayani disiplin; jurnal adalah penjaga, bukan pemilik, pengetahuan.
11) Masa Depan Peer Review
Teknologi dan budaya sedang membentuk ulang bagaimana para ilmuwan menilai satu sama lain. Alat kecerdasan buatan sekarang menandai potensi plagiarisme atau anomali statistik. Peer review pasca-publikasi—melalui platform seperti PubPeer atau proses konsultatif eLife—mengundang umpan balik komunitas di luar penerimaan. Dekade berikutnya kemungkinan akan melihat model hibrida yang menggabungkan anonimitas, transparansi, dan data terbuka.
Pada akhirnya, tidak ada sistem peer-review yang dapat menggantikan etika. Apakah identitas disembunyikan atau diungkapkan, integritas bergantung pada individu yang memperlakukan rekan dengan keadilan dan rasa hormat. Struktur menyediakan kerangka; para ilmuwan menyediakan kepercayaan.
Kesimpulan: Unsur Manusia di Balik Setiap Model
Tinjauan buta tunggal melindungi peninjau, tinjauan buta ganda melindungi penulis, dan [open] melindungi pembaca. Masing-masing menawarkan bagian dari teka-teki keadilan, tetapi tidak ada yang sempurna. Sistem terbaik untuk beasiswa tidak ditentukan hanya oleh kebijakan—itu tergantung pada orang-orang yang menggunakan model apa pun yang mereka warisi dengan kejujuran, transparansi, dan perhatian. Tujuannya sama dalam setiap bentuk: penelitian yang tahan terhadap pengawasan, meningkat melalui kritik, dan melayani kemajuan pengetahuan.